Jumat, 19 Desember 2014

Sistem Religi

ASAL MULA RELIGI DAN INTI RELIGI
Perilaku manusia yang bersifat religi itu terjadi karena :
1.      Manusia mulai sadar akan adanya konsep ruh;
-          Tylor (1873) dengan Teori Ruh-nya, menyebutkan asal-mula dari religi adalah kesadaran manusia akan konsep ruh, yang disebabkan oleh dua hal :
a)      Perbedaan yang tampak antara benda-benda yang hidup dan benda-benda yang mati. Lama-kelamaan manusia mulai menyadari bahwa gerak dalam alam (yaitu hidup) disebabkan oleh sesuatu kekuatan yang berada disamping tubug jasmaninya, yakni jiwa (yang kemudian lebih khusus disebut ruh);
b)      Pengalaman bermimpi. Dalam mimpinya manusia melihat dirinya berada di tempat-tempat lain selain tempat ia tertidur. Maka ia mulai membedakan antara tubuh jasmaninya yang berada di tempat tidur dan bagian lain dari dirinya, yaitu jiwanya (ruhnya) yang pergi ke tempat lain.
2.      Manusia mengakui adanya berbagai gejala yang tidak dapat dijelaskan dengan akal;
-          Frazer dengan Teori Batas Akal-nya, menyebutkan bahwa : Manusia memecahkan masalah-masalah hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya, tetapi akal dan sistem pengetahuan manusia terbatas. Semakin maju kebudayaannya, semakin luas batas akal itu. Batas akal manusia masih sempit, soal-soal hidup yang tidak dapat manusia pecahkan dengan akal dipecahkan dengan ilmu gaib.
-          Ketika manusia menyadari bahwa ilmu gaib tidak lagi bermanfaat bagi mereka, mulailah timbul kepercayaan bahwa alam dihuni oleh makhluk-makhluk halus yang lebih berkuasa, dengan siapa manusia kemudian mulai mencari hubungan, sehingga timbullah religi.
-          Ilmu gaib adalah segala sistem perbuatan dan sikap manusia untuk mencapai suatu maksud dengan menguasai dan menggunakan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum gaib yang ada di alam semesta. Religi adalah segala sistem perbuatan untuk mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan diri pada kehendak dan kekuasaan makhluk-makhluk halus (ruh, dewa, dsb) yang menghuni alam semesta ini.


3.      Keinginan manusia untuk menghadapi berbagai krisis yang senantiasa dialami manusia dalam daur hidupnya;
-          M. Crawley (1905) dalam bukunya Tree of Life dan A. van Gennep (1909) dalam bukunya Rites de Passage mengungkapkan Teori Masa Krisis Dalam Hidup Individu sebagai berikut : Selama hidupnya manusia mengalami berbagai krisis yang sangat ditakuti oleh manusia, dan itu menjadi objek perhatiaannya. Terutama terhadap bencana sakit dan maut, segala kepandaian, kekuasaan, dan harta benda yang dimiliki manusia tidak berdaya.
-          Selama daur hidupnya, ada saat-saat genting bagi manusia, saat ketika manusia mudah jatuh sakit atau tertimpa bencana, misalnya masa kanak-kanak, atau saat ia beralih dari usia muda ke dewasa, masa hamil, melahirkan, dan saat ia menghadapi sakaratul maut. Pada saat-saat seperti itu manusia perlu melakukan sesuatu untuk memperteguh imannya, yang dilakukannya dengan upacara-upacara. Perbuatan-perbuatan inilah yang merupakan pangkal dari religi dan merupakan bentuk-bentuk yang tertua.
4.      Kejadian-kejadian luar biasa yang dialami manusia di alam sekelilingnya;
-          R.R. Marret (1909) dalam bukunya The Threshold of Religion, mengungkapkan Teori Kekuatan Luar Biasa. Teori ini dimulainya dengan kecaman terhadap anggapan Tylor tentang kesadaran manusia akan adanya jiwa.
-          Menurut Marret, kesadaran seperti itu terlalu kompleks bagi pikiran manusia yang baru berada pada tingkat-tingkat awal kehidupannya di bumi ini. Menurutnya, pangkal dari segala perilaku keagamaan ditimbulkan karena adanya perasaan tidak berdaya dalam menghadapi gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang dianggap luar biasa dalam kehidupan manusia.
-          Alam tempat gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa itu berasal, yang oleh manusia dianggap sebagai tempat adanya kekuatan-kekuatan yang telah dikenalnya dalam alam sekelilingnya, disebut the supernatural. Gejala-gejala, hal-hal, dan peristiwa-peristiwa yang luar biasa itu dianggap sebagai akibat dari kekuatan supernatural (kekauatan sakti).
5.      Adanya getaran jiwa (emosi) berupa rasa kesatuan yang timbul dalam jiwa manusia sebagai warga dari masyarakatnya;
-          E Durkheim melalui Teori Elementer Mengenai Hidup Beragama menganggap bahwa alam pikiran manusia pada awal perkembangan kebudayannya belum mampu memahami konsep ‘jiwa’ dan ‘ruh’ yang bersifat abstrak itu, dan memisahkannya dari jasmani manusia. Ia juga berpendirian bahwa manusia pada saat itu juga belum mungkin menyadari paham abstraksi lain, seperti perubahan dari jiwa menjadi ruh, setelah jiwa terlepas dari tubuhnya.  
-          Teori Elementer Mengenai Hidup Beragama menyangkut beberapa pengertian dasar, yaitu :
1)      Pada awal keberadaannya di muka bumi, manusia mengembangkan religi karena adanya getaran jiwa, yaitu suatu emosi keagamaan, yang timbul dalam jiwanya karena adanya emosi terhadap keagamaannya, dan bukan karena dalam pikirannya manusia membayangkan adanya ruh tang abstrak, berupa kekuatan yang menyebabkan hidup dan gerak dalam alam semesta ini;
2)      Dalam pikirannya, emosi keagamaan itu berupa perasaan yang mencakup rasa keterikatan, bakti, cinta, dsb, terhadap masyarakatnya sendiri, yang baginya merupakan seluruh hidupnya;
3)      Emosi keagamaan tidak selalu berkobar setiap saat dalam dirinya. Apabula tidak dirangsang dan dipelihara, emosi keagamaan itu menjadi latent (melemah), sehingga perlu dikobarkan kembali antara lain melalui kontraksi masyarakat (mengumpulkan seluruh masyarakat dalam pertemuan-pertemuan raksasa);
4)      Emosi keagamaan yang muncul itu membutuhkan suaut objek tujuan. Mengenai apa yang menyebabkan bahwa sesuatu hal yang menjadi obyek dari emosi keagamaan, bukanlah terutama sifatnya yang luar biasa atau aneh atau megah; tetapi adanya tekanan berupa anggapan umum dalam masyarakat, misalnya karena salah satu peristiwa secara kebetulan pernah dialami ole orang banyak. Obyek yang menjadi tujuan emosi keagamaan dapat bersifat sacre (keramat), sebagai lawan dari sifat profan (tidak keramat), yang tidak memiliki nilai keagamaan;
5)      Suatu obyek keramat sebenarnya merupakan lambang dari suatu masyarakat. Pada suku-suku bangsa asli di Australia, obyek keramat yang menjadi obyek emosi kemasyarakatannya seringkali berwujud suatu jenis hewan atau tumbuh-tumbuhan. Para pakar menyebut prinsip yang berada di belakang obyek dari suatu kelompok dalam masyarakat dengan istilah totem.
6)      Manusia menerima suatu firman dari tuhan.
Schmidt, seorang pendeta Katolik percaya bahwa : agama berasal dari Titah Tuhan yang diturunkan pada awal keberadaan manusia di bumi. Karena itu, adanya tanda-tanda dari suatu kepercayaan pada dewa pencipta pada suku-suku bangsa yang paling rendah tingkat kebudayaannya (tertua), memperkuat anggapan mengenai adanya Titah Tuhan Asli yang disebutnya Uroffenbarung.   

UNSUR-UNSUR DASAR RELIGI
Untuk dapat mendeskripsi religi diantara ribuan kebudayaan di dunia, dalam antropologi religi dibagi dalam unsur-unsur berikut :
1.      Emosi keagamaan (getaran jiwa) yang menyebabkan bahwa manusia didorong untuk berperilaku keagamaan;
2.      Sistem kepercayaan atau bayangan-bayangan manusia tentang bentuk dunia, alam, alam gaib, hidup, maut, dsb;
3.      Sistem ritus dan upacara keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia gaib berdasarkan sistem kepercayaan;
4.      Kelompok keagamaan atau kesatuan-kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi berikut sistem upacara-upacara keagamaannya;
5.      Alat-alat fisik yang digunakan dalam ritus dan upacara keagamaan.

WUJUD DARI AGAMA DAN RELIGI
1.      Fetishism. Yaitu bentuk religi yang didasarkan pada kepercayaan akan adanya jiwa dan benda-benda tertentu, dan terdiri dari berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan memuja-muja benda ‘berjiwa’.
2.      Animism. Yaitu bentuk religi yang didasarkan pada kepercayaan bahwa alam sekeliling tempat tinggal manusia dihuni oleh berbagai macam ruh, dan terdiri dari berbagai kegiatan keagamaan guna memuja ruh-ruh tersebut.
3.      Animatism. Yang tidak merupakan suatu bentuk religi, melainkan suatu sistem keprcayaan bahwa benda-benda serta tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa dan dapat berfikir seperti manusia. Kepercayaan itu tidak menyebabkan adanya berbagai kegiatan keagamaan dengan maksud memuja benda-benda dan tumbuh-tumbuhan tadi, walaupun dapat menjadi unsur dalam suatu religi.
4.      Prae-animsim (kadang disebut juga dynamism). Yaitu bentuk religi berdasarkan kepercayaan pada kekuatan sakti yang ada dalam segala hal yang luar biasa, terdiri dari kegiatan-kegiatan keagamaan yang berpedoman pada kepercayaan tersebut.
5.      Totemism. Yaitu bentuk religi dari masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok kekerabatan unilineal. Bentuk religi ini didasarkan pada kepercayaan bahwa kelompok-kelompok unilineal ini masing-masing berasal dari para dewa dan leluhur yang masih terikat tali kekerabatan, dan terdiri dari kegiatan-kegiatan keagamaan untuk memuja mereka serta untuk mempererat kesatuan dalam kelompok unilineal masing-masing, yang masing-masing juga memiliki lambangnya (totem) sendiri berupa suatu jenis hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala alam, atau benda yang melambangkan dewa-leluhur kelompoknya.
6.      Polytheism. Yaitu bentuk religi yang didasarkan kepercayaan akan adanya suatu hierarki dewa-dewa, dan terdiri dari upcara-upacara untuk memuja para dewa tadi.
7.      Monotheism. Yaitu bentuk religi yang didasarkan kepercayaan pada satu dewa, yaitu Tuhan, dan kegiatan-kegiatan upacaranya bertujuan untuk memuja Tuhan tersebut.

8.      Mystic. Yaitu bentuk religi yang didasarkan kepercayaan kepada satu Tuhan yang dianggap menguasai seluruh alam semesta, dan terdiri dari upacara-upacara yang bertujuan mencapai kesatuan dengan Tuhan tersebut. Dalam banyak agama, manusia berupaya untuk dapat mendekatkan diri pada Tuhan (pantheism). Tetapi ada konsep bahwa manusia menjadi satu dengan Tuhan, berdasarkan nalar bahwa segala hal di dunia (termasuk manusia dengan lingkungannya) adalah bagian dari Tuhan (monosm). 

Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan

·         Semua konsep yang diperlukan apabila ingin menganalisa proses-proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan disebut dinamika sosial (social dynamic).
·         Konsep-konsep tersebut terdiri dari :
A.    Proses belajar kebudayaan oleh warga masyarakat yaitu; (a) internalisasi, (b) sosialisasi, dan (c) enkulturisasi.
B.     Proses perkembangan kebudayaan umat manusia pada umumnya dan bentuk-bentuk kebudayaan yang sederhana, hingga bentuk-bentuk yang makin lama makin kompleks, yaitu; evolusi kebudayaan.
C.     Proses penyebaran kebudayaan secara geografi, terbawa oleh perpindahan bangsa-bangsa dimuka bumi, yaitu; proses difusi.
D.    Proses belajar unsur-unsur kebudayaan asing oleh warga masyarakat, yaitu; proses akulturasi dan asimilasi.
E.     Proses pembaruan/inovasi, yang berkaitan erat dengan penemuan baru (discovery dan invention). 

PROSES BELAJAR KEBUDAYAAN SENDIRI
Proses Internalisasi
·         Proses internalisasi adalah proses panjang sejak seorang individu dilahirkan sampai ia hampir meninggal. Individu belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya.
·         Manusia mempunyai bakat yang telah terkandung dalam gennya untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi, dalam kepribadian individunya. Tetapi wujud dari kepribadiannya itu sangat dipengaruhi oleh berbagai macam stimuli yang ada di sekitar alam dan lingkungan sosial maupun budayanya.
Proses Sosialisasi
·         Proses sosialisasi berhubungan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial.
·         Seorang individu dari masa kanak-kanak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam berinteraksi dengan segala macam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupannya sehari-hari.
·         Proses sosialisasi dalam golongan-golongan sosial yang lain yang berbeda, dapat menunjukkan proses sosialisasi yang sangat berbeda.
·         Para individu dalam masyarakat yang berbeda akan mengalami proses sosialisasi berbeda pula karena proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan.
Proses Enkulturasi
·         Proses enkulturasi adalah proses seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran dan sikapnya dengan adat, sistem norma, dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.
·         Proses enkulturasi sudah dimulai sejak kecil dalam alam pikiran warga suatu masyarakat; mula-mula dari orang-orang di dalam lingkungan keluarganya, kemudian dari teman-teman bermainnya. Seringkali ia belajar dengan meniru berbagai macam tindakan, setelah perasaan dan nilai budaya pemberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasi dalam kepribadiannya. Dengan berkali-kali meniru maka tindakannya menjadi suatu pola yang mantap, dan norma yang mengatur tindakannya ‘dibudayakan’.
·         Terkadang berbagai norma juga dipelajari seorang individu secara sebagian-sebagian. Caranya dengan mendengar dan berbagi orang dalam lingkungan pergaulannya pada saat-saat yang berbeda-beda, menyinggung atau membicarakan norma tadi. Sudah tentu ada norma yang diajarkan yang diajarkan kepadanya dengan sengaja tidak hanya dalam lingkungan keluarga dan luar lingkungan keluarga, tetapi juga secara formal di sekolah.
Sudah tentu dalam suatu masyarakat ada pula individu yang mengalami berbagai hambatan dalam proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturisasinya yang menyebabkan bahwa hasilnya kurang baik. Individu tidak dapat menyesuaikan kepribadiannya dengan lingkungan sosial sekitarnya, menjadi kaku dalam pergaulan, dan condong untuk menghindari norma-norma dan aturan-aturan masyarakat, hidupnya penuh dengan konflik dengan orang lain.
Penyimpangan dari adat merupakan suatu faktor penting karena merupakan sumber dari berbagai kejadian masyarakat dan kebudayaan positif dan negatif.
Kejadian masyarakat yang positif adalah perubahan kebudayaan (culture change) yang menjelma ke dalam perubahan dan pembauran dalam adat istiadat kuno. Kejadian masyarakat yang negatif misalnya berbagai ketegangan masyarakat yang menjelma menjadi permusuhan antara golongan, adanya banyak penyakit jiwa, banyaknya peristiwa bunuh diri, kerusakan masyarakat yang menjelma menjadi kejahatan, demoralisasi, dsb.

PROSES EVOLUSI SOSIAL
Proses Microscopic dan Macroscopic dalam Evolusi Sosial
·         Proses evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisis oleh seorang peneliti seolah-olah dari dekat secara detail (microscopic), atau dapat juga dipandang seolah-olah dari jauh dengan hanya memperhatikan perubahan-perubahan yang tampak besar saja (macroscopic).
·         Proses evolusi sosial budaya yang dianalisa secara detail akan membuka mata peneliti untuk berbagai macam proses perubahan yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari tiap masyarakat di dunia. Dalam ilmu Antropologi, proses ini disebut dengan ‘proses-proses berulang’ (recurrent processes).
·         Proses evolusi sosial budaya yang dipandang seolah-olah dari jauh hanya akan menampakkan kepada peneliti perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Dalam ilmu antropologi, proses ini disebut ‘proses-proses menentukan arah (directional process) (E.Z. Vogt,1960).
Proses-Proses Berulang dalam Evolusi Sosial Budaya
·         Proses ini melihat faktor individu (sikap, perasaan, dan tingkah laku khusus) dalam masyarakat individu yang mungkin bertentangan/menyimpang dengan adat istiadat.
·         Tindakan individu warga masyarakat yang menyimpang dari adat istiadat, pada suatu ketika dapat banyak terjadi dan dapat sering berulang (recurrent) dalam kehidupan sehari-hari di setiap masyarakat.
·         Mengingat keperluan diri-sendiri, dengan demikian individu sedapat mungkin akan mencoba menghindari adat atau aturan apabila tidak cocok dengan keperluan pribadinya itu.
·         Keadaan-keadaan menyimpang ini sangat penting artinya karena penyimpangan yang demikian di atas merupakan pangkal dari proses-proses perubahan kebudayaan masyarakat pada umumnya.
Proses Mengarah dalam Evolusi Kebudayaan
·         Dengan mengambil jangka waktu yang panjang maka akan terlihat perubahan-perubahan besar yang seolah bersifat menentukan arah (directional) dari sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan.
·         Sebagai contoh : misalnya tingkat kebudayaan manusia yang berawal dari Neolitik (jaman batu), kemudian berubah menjadi Mesolitik (jaman batu tengah), dan akhirnya berubah menuju Paleolitik (jaman batu keping).

PROSES PENYEBARAN (DIFUSI)
Penyebaran Manusia
·         Terdapat dua hal yang menyebabkan migrasi dari mannusia, yaitu : (a) hal-hal yang menyebabkan migrasi yang lambat dan otomatis, dan (b) hal-hal yang menyebabkan migrasi yang cepat dan mendadak.
·         Migrasi yang lambat dan otomatis berkembang sejajar dengan laju pertumbuhan manusia di bumi. Dalam hal ini, seolah-olah makhluk manusia memerlukan tempat-tempat yang baru di muka bumi.
·         Migrasi yang cepat dan mendadak terjadi karena bencana alam, wabah, perubahan mata pencaharian, peperangan, dan peristiwa-peristiwa khusus yang tercatat dalam sejarah.
Penyebaran Unsur-Unsur Kebudayaan
·         Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayan dan sejarah dari proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru dunia yang disebut proses difusi (diffusion).
·         Bentuk-bentuk difusi adalah :
a)      Penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain di bumi oleh kelompok-kelompok manusia yang bermigrasi.
b)      Penyebaran unsur-unsur kebudayaan oleh individu-individu tertentu (pedagang, pelaut, pendeta agama)
c)      Penyebaran unsur-unsur kebudayaan berdasarkan pertemuan antara individu dalam suatu kelompok manusia dengan individu kelompok lain. Dapat berlangsung dengan berbagai cara :
(1)   Hubungan dimana bentuk dan kebudayaan masing-masing kelompok hampir tidak berubah (hubungan symbiotic).
(2)   Hubungan yang disebabkan karena perdagangan, penyebaran agama (pemasukan secara damai), dan peperangan (pemasukan secara tidak damai).
·         Suatu difusi yang meliputi jarak yang sangat besar biasanya terjadi melalui suatu rangkaian pertemuan antara suatu deret suku-suku bangsa yang disebut dengan stimulus diffusion.
·         Proses difusi juga dapat berlangsung dengan cepat sekali, bahkan sering tanpa kontak yang nyata antara individu-individu dengan adanya alat-alat penyiaran yang sangat efektif seperti surat kabar, majalah, buku, radio, film dan televisi.
·         Suatu proses difusi tidak hanya dilihat dari sudut bergeraknya unsur-unsur kebudayan dari unsur-unsur kebudayaan dari suatu tempat ke tempat lain di bumi saha, tetapi terutama sebagai suatu proses dimana unsur-unsur kebudayaan dibawa oleh iondividu-individu dari kebudayaan lain, maka terbuktu bahwa tidak pernah terjadi difusi dari satu unsur kebudayaan. Unsur-unsur itu selalu berpindah-pindah sebagai suatu gabungan/kompleks yang tidak mudah dipisahkan.

PROSES BELAJAR KEBUDAYAAN ASING
Akulturasi
·         Akulturasi merupakan suatu proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Asimilasi
·         Asimilasi merupakan proses sosial yang timbul apabila terdapat : (a) golongan-golngan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, (b) saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga (c) kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas, dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran.
·         Golongan-golongan yang tersangkut dalam suatu proses asimilasi adalah suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas. Dalam hal ini golongan-golongan minoritas mengubah sifat khas dari unsur-unsur kebudayaannya dan menyesuaikannya dengan kebudayaan dari golongan mayoritas sedemikian rupa sehingga lambat laun kehilangan kepribadian kebudayaannya dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas.
·         Proses asimilasi tidak akan berlangsung hanya dengan adanya pergaulan antara kelompok-kelompok secara luas dan intensif saja, apabila diantara kelompok-kelompok yang berhadapan tersebut tidak ada suatu sikap toleransi dan simpati satu sama lain.
·         Faktor-faktor penghalang sikap toleransi dan simpati terhadap kebudayaan adalah : (a) kurang pengetahuan tentang kebudayaan yang dihadapi; (b) sifat takut terhadap kekuatan dan kebudayaan lain; (c) perasaan superioritas pada individu-individu dari suatu kebudayaan terhadap yang lain.

PEMBARUAN/INOVASI
Inovasi dan Penemuan
·         Inovasi adalah suatu proses pembaruan dan penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal, pengaturan baru baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi yang menghasilkan produksi-produksi baru. Dengan demikian inovasi itu mengenai pembaruan kebudayaan yang khusus mengenai unsur teknologi dan ekonomi.
·         Proses inovasi sangat erat kaitannya dengan penemuan baru teknologi. Suatu penemuan biasanya juga merupakan suatu proses sosial yang panjang dan melalui dua tahap khusus, yaitu : discovery dan invention.
·         Discovery adalah suatu penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru (baik berupa alat baru, ide baru), yang diciptakan oleh seorang individu/rangakaian dari beberapa individu dalam masyarakat yang bersangkutan.  
·         Discovery baru menjadi invention bila masyarakat sudah mengakui, menerima, dan menerapkan penemuan baru itu.
Pendorong Penemuan Baru
·         Pendorong penemuan bari itu adalah : (a) Kesadaran para individu akan keurangan dalam kebudayaan; (b) Mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan; (c) Sistem perangsang bagi aktivitas mencipta dalam masyarakat.
Inovasi dan Evolusi
·         Suatu proses inovasi merupakan suatu proses evolusi. Bedanya dalam proses inovasi individu2 itu aktif, sedangkan dalam proses evolusi individu2 itu pasif bahkan sering bersifat negatif.

·         Karena kegiatan dalam dan usaha individu2 itulah maka suatu inovasi memang merupakan suatu proses perubahan kebudayaan yang lebih cepat daripada evolusi. 

Unsur-Unsur Kebudayaan

C. Kluckhohn, dalam bukunya Universal Categories of Culture (1953) menyebutkan tujuh unsur dari kebudayaan sebagai berikut :
1)      Bahasa
Sistem perlambangan manusia yang lisan maupun yang tertulis untuk berkomunikasi satu sama lain.
2)      Sistem pengetahuan
Pengetahuan mengenai teknologi dan pengetahuan yang mencolok dan dianggap aneh. Cabang-cabang pengetahuan tersebut antara lain pengetahuan tentang :
(a)     alam sekitarnya; (musim2, sifat gejala alam, bintang2,dsb). Pengetahuan ini mendekati lapangan religi bilamana pengetahuan ini bersangkutan dengan masalah asal mula alam, penciptaan alam, asal mula gejala2, asal mula gerhana, dsb.
(b)    alam flora di daerah tempat tinggalnya; merupakan pengetahuan dasar bagi kehidupan manusia dalam masyarakat kecil yang nantinya berhubungan dengan sistem mata pencaharian masyarakat tersebut. Pengetahuan ini juga dipakai untuk pengobatan, ilmu dukun, upacara keagamaan, dsb. Selain dua hal tersebut, pengetahuan ini juga berhubungan dengan sistem teknologi dimana masyarakat membuat bahan cat, racun senjata, dsb.
(c)     alam fauna di daerah tempat tinggalnya;
(d)    zat-zat, bahan mentah, dan benda-benda dalam lingkungannya; pengetahuan ini diperlukan manusia guna membuat dan menggunakan alat-alat dalam hidupnya.
(e)      tubuh manusia; pengetahuan yang mendasari ilmu untuk menyembuhkan penyakit oleh para dukun dan tukang pijat.
(f)     sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia; banyak suku bangsa dalam hal bergaul dengan sesamanya berpegangan pada misalnya pengetahuan tentang tipe-tipe wajah (ilmu firasat), atau pengetahuan tentang tanda-tanda tubuh tersebut. Dalam golongan ini dapat juga dimasukkan pengetahuan tentang sopan-santun pergaulan, adat-istiadat, sistem norma, hukum adat, dsb.
(g)    ruang dan waktu. Banyak kebudayaan yang belum terpengaruh dengan ilmu pasti modern. Banyak kebudayaan yang mengenai suatu sistem untuk menghitung jumlah-jumlah besar, mengukur, menimbang, mengukur waktu (tanggalan), dsb.
3)      Organisasi sosial/Sistem Kekerabatan
Setiap kehidupan masyarakat diorganisasi atau diatur oleh adat-istiadat dan aturan-aturan tentang berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan tenpat individu hidup dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dengan dan mesra adlah kesatuan kekerabatannya, yaitu keluarga inti yang dekat dan kaum kerabat lain, kesatuan-kesatuan di luar kaum kerabat, tetapi masih dalam lingkungan komunitas.  
4)      Sistem teknologi
Cara-cara memproduksi, memakai, dan memelihara segala peralatan hidup, yang terdiri dari : (1) alat-alat produksi; (2) alat membuat api; (3) senjata; (4) wadah; (5) makanan; (6) pakaian; (7) tempat berlindung; dan (8) alat transportasi.
5)      Sistem mata pencaharian
Sistem ekonomi dari suatu bangsa, yang terdiri dari : (1) berburu dan meramu; (2) beternak; (3) bercocok tanam di ladang; (4) menangkap ikan; dan (5) bercocok tanam menetap dengan irigasi. 
6)      Sistem religi
Merupakan getaran jiwa manusia yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan religi. Sistem keyakinan, sistem upacara keagamaan, umat religi.
7)      Kesenian

Ekspresi hasrat manusia akan keindahan, yang terdiri dari seni rupa dan seni suara.

Bahasa dan Kebudayaan

Variasi Bahasa
a)      Idiolek, yakni variasi bahasa yang bersifat perseorangan.  Setiap orang mempunyai variasi bahasanya/idioleknya masing-masing. Idiolek berkenaan dengan ‘warna’ suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dsb. Namun yang paling dominan adalah ‘warna’ suara itu.
b)      Dialek, yakni variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah/area tempat tinggal penutur.
c)      Kronolek/dialek temporal, yakni variasi bahasa yang digunakan kelompok sosial pada masa tertentu.
d)     Sosialek/dialek sosial, yakni variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya :
(1)   Akrolek, variasi sosial yang dianggap lebih tinggi/ lebih bergengsi daripada variasi sosial lainnya. Bahasa bagongan yakni variasi bahasa Jawa yang digunakan oleh para bangsawan kraton Jawa.
(2)   Basilek, variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi, atau bahkan dianggap rendah. Bahasa Inggris yang digunakan oleh para cowboy.
(3)   Vulgar, variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pemakaian bahasa oleh mereka yang kurang terpelajar/ dari kalangan mereka yang tidak berpendidikan.
(4)   Slang, variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan luar kelompok itu. Kosakata yang digunakan dalam slang selalu berubah-ubah.
(5)   Kolokial, variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kolokial berarti bahasa percakapan, bukan bahasa tulis. Nggak ada (tidak ada), dok (dokter), let (letnan).
(6)   Jargon, variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu. Ungkapan yang yang digunakan seringkali tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum atau masyarakat di luar kelompoknya. Namun ungkapan tersebut tidak bersifat rahasia. Dalam kelompok montir ada ungkapan roda gila, didongkrak, dices, dibalans, dipoles,dsb.
(7)   Argot, variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Letak pengkhususan argot ada dalam kosakata. Dalam dunia kejahatan (pencuri, copet, dll) pernah digunakan ungkapan barang (mangsa), kacamata (polisi), daun (uang), gemuk (mangsa besar), dsb.
(8)   Ken, variasi sosial tertentu yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan. Biasanya digunakan oleh para pengemis.

Hubungan Bahasa dan Kebudayaan
·         Berdasarkan unsur kebudayaan, bahasa merupakan bagian dari kebudayaan. Jadi hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, dimana bahasa berada di bawah lingkup kebudayaan. Artinya, kebudayaan merupakan main system dan bahasa merupakan subsystem.
·         Menurut Masinambouw (1985) menyebutkan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua sistem yang ‘melekat’ pada manusia. Apabila kebudayaan itu adalah merupakan suatu sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, maka bahasa adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsunya interaksi tersebut. Artinya, hubungan yang erat itu berlaku sebagai : kebudayaan merupakan sistem yang mengatur interaksi manusia, sedangkan bahasa merupakan sistem yang berfungsi sebagai sarana keberlangsungan sarana itu.
·         Terdapat pendapat ahli lain yang menyatakan bahwa bahasa dan kebuadayaan mempunyai hubungan yang koordinatif (yakni kedudukan yang sama tinggi, sederajat).
·         Mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan yang bersifat koordinatif, terdapat dua hal yang perlu dicatat :
·         Pertama, ada yang menyatakan bahwa hubungan kebahasaan dan kebudayaan itu seperti anak kembar siam, dua buah fenomena yang terikat erat, seperti hubungan antara sisi yang satu dengan sisi yang lain pada sekeping mata uang logam. Sisi yang satu adalah sistem kebahasaan dan sisi yang lain adalah sistem kebudayaan (Silzer, 1990). Jadi pendapat ini mengatakan bahwa kebahasaan dan kebudayaan merupakan dua fenomena yang berbeda, tetapi hubungannya sangat erat, sehingga tidak bisa dipisahkan. Jadi, sesuai dengan konsep Masinambouw di atas.  

·         Kedua, adanya hipotesis (dugaan sementara/pegangan dasar/dasar pendapat) yang sangat kontroversial yakni hipotesis Sapir-Whorf yang lazim dikenal dengan dengan relativitas bahasa. Di dalam hipotesis ini dikatakan bahwa : bahasa bukan hanya menentukan corak budaya, tetapi juga menentukan cara dan jalan pikiran manusia; dan oleh karena itu mempengaruhi juga tidak lakunya