Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Desember 2014

Sisi Gelap Identitas

·         Dalam pengertian komunikasi antarbudaya, melibatkan orang-orang dari budaya yang berbeda dan hal ini membuat perbedaan sebagai kondisi yang normatif. Jadi, reaksi dan kemampuan individu untuk mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut adalah kunci sukses suatu reaksi interaksi antarbudaya.
·         Kecenderungan individu terhadap sesuatu yang dimengerti dan dikenal dapat mempengaruhi persepsi dan sikap terhadap orang dan hal yang baru dan berbeda. Hal ini dapat mengarah pada stereotip, prasangka, rasisme, dan etnosentrisme.

STEREOTIP
·         Samovar (2010) : “Stereotip merupakan bentuk kompleks dari pengelompokkan yang secara mental mengatur pengalaman individu dan mengarahkan sikap individu dalam menghadapi orang-orang tertentu.”
·         Abbate, Boca, dan Bocchiaro (2004) : “Stereotip merupakan susunan kognitif yang mengandung pengetahuan, kepercayaan, dan harapan si penerima mengenai kelompok sosial manusia.”
·         Alasan mengapa stereotip itu mudah menyebar adalah karena manusia memiliki kebutuhan psikologis untuk mengelompokkan dan mengklasifikasikan suatu hal. Dunia dimana manusia tinggal ini terlalu luas, terlalu kompleks, dan terlalu dinamis untuk manusia ketahui secara detail. Jadi, manusia ingin mengelompokkan dan mengotak-ngotakannya. Permasalahannya bukan pada pengelompokkan/pengotakan tersebut, namun pada overgeneralisasi dan penilaian negatif (tindakan/prasangka) terhadap anggota kelompok tertentu (J.W. Berry, Y.H. Segall, dan P.R. Dassen, 1992).
·         Stereotip dapat positif atau negatif. Stereotip yang merujuk sekelompok orang sebagai orang yang malas, kasar, jahat, atau bodoh merupakan stereotip negatif. Asumsi pelajar dari Asia yang pekerja keras, berkelakuan baik, dan pandai merupakan stereotip positif.
·         Karena stereotip mempersempit persepsi manusia, maka stereotip dapat mencemarkan komunikasi antarbudaya. Hal ini karena stereotip cenderung untuk menyamaratakan ciri-ciri sekelompok orang.
·         Bagaimana stereotip diperoleh? Stereotip dipelajari dengan berbagai cara melalui proses sosialisasi mulai dari orang tua, keluarga, sekolah, kelompok agama, dll.
·         Bagaimana menghindari stereotip? Ting-Toomey (2005) menawarkan metode efektif untuk mengontrol stereotip adalah dengan cara selalu terbuka pada informasi dan bukti yang baru serta waspada akan zona ketidaknyamanan anda.

PRASANGKA
·         Samovar (2010) memberikan pengertian yang luas tentang prasangka yaitu : “Merupakan perasaan negatif yang dalam terhadap kelompok tertentu. Sentimen ini terkadang meliputi kemarahan, kebencian, dan kecemasan.”
·         Macionis (1998) : “Prasangka merupakan generalisasi kaku dan menyakitkan mengenai sekelompok orang. Prasangka menyakitkan dalam arti bahwa orang memiliki sikap yang tidak fleksibel yang didasarkan atas sedikit atau tidak ada bukti sama sekali. Orang-orang dari kelas sosial, jenis kelamin, orientasi seks, usia, partai politik, ras/etnis tertentu dapat menjadi target dari prasangka.”
·         Ruscher (2001) : “Dalam komunikasi, perasaan dan perilaku negatif sasaran prasangka terkadang ditunjukkan melalui penggunaan label, humor permusuhan, atau pidato yang menyatakan superioritas suatu kelompok terhadap kelompok lain.”
·         Karakteristik dari prasangka yaitu :
a)      Prasangka ditujukan pada suatu kelompok sosial dan anggotanya. Terkadang kelompok tersebut ditandai oleh ras, etnis, gender, usia, dsb.
b)      Prasangka melibatkan dimensi evaluatif. Prasangka berhubungan dengan perasaan mengenai yang baik dan buruk, benar dan salah, bermoral dan tidak bermoral, dsb. (Brislin, 2000).
c)      Prasangka itu terpusat, dalam arti seberapa besar pentingya suatu kepercayaan dalam menentukan perilaku seseorang terhadap yang lainnya (Fishbein, 2002).
Pernyataan Prasangka
Allport (1954) dalam karyanya The Nature of Prejudice menyatakan lima pernyataan prasangka, yaitu :
a)      Prasangka dinyatakan melalui antilokusi (isitlah negatif/stereotip tentang anggota dari kelompok target).
b)      Prasangka dinyatakan melalui menghindari dan/atau menarik diri  untuk berhubungan dengan kelompok orang yang tidak disukai.
c)      Prasangka dinyatakan melalui diskriminasi.
d)     Prasangka dinyatakan melalui serangan fisik.
e)      Prasangka dinyatakan melalui extermination (pembasmian).
Penyebab Prasangka
Samovar (2010) menyebutkan beberapa penyebab dari prasangka yaitu :
a)      Sumber Sosial. Banyak prasangka yang dibangun dalam organisasi dan institusi masyarakat yang besar. Organisasi-organisasi menetapkan hukum, peraturan, dan norma yang menimbulkan prasangka dalam suatu masyrakat. Hukum dan peraturan ini menolong untuk mempertahankan kekuasaan suatu kelompok dominan terhadap kelompok yang lainnya.
b)      Mempertahankan Identitas Sosial. Pentingnay identitas seseorang dalam hubungannya dengan budaya, hubungan ini merupakan hubungan yang personal dan emosional. Hal ini menciptakan hubungan antara individu dan budayanya. Segala sesuatu yang mengancam ikatan tersebut, seperti anggota kelompok luar, dapat menjadi target prasangka.
c)      Mencari Kambing Hitam. Pencarian kambing hitam terjadi ketika sekelompok orang tertentu, biasanya kaum minoritas, dipilih untuk dipersalahkan terhadap suatu kejadian tertentu.
Mengindari Prasangka
·         Mengindari prasangka bukanlah hal yang mudah, karena seperti aspek persepsi budaya pada umumnya, prasangka rasial dan budaya dipelajari sejak kecil dan ditanamkan melalui interaksi.
·         Terdapat dua teknik yang dapat digunakan dalam mencegah prasangka, yaitu :
a)      Hubungan Personal
Peranan hubungan personal sangat sederhana : semakin sering terjadi hubungan positif antara anggota kelompok dalam dan kelompok luar maka semakin rendah level prasangka yang terjadi. Syarat yang harus dipenuhi dalam hubungan personal itu adalah : kesetaraan antara kelompok dan kerjasama untuk mencapai tujuan bersama (Oskamp, 2000).  
b)      Pendidikan  
Terdapat dua jenis pendidikan untuk mengurangi prasangka, yaitu (1) pendidikan yang berpusat pada kurikulum pendidikan multikultur (berisi materi tentang sejarah dan praktik budaya dari sejumlah kelompok etnis dan ras). (2) pelatihan keanekaragaman budaya (Stephen, 2000)

RASISME
Pengertian Rasisme
·         Rasisme merupakan lanjutan dari stereotip dan prasangka.
·         Leone (1978) dalam karyanya Racism : Opposing Viewpoints menyebutkan :
“Rasisme merupakan kepercayaan terhadap superioritas yang diwarisi oleh ras tertentu. Rasisme menyangkal kesetaraan manusia dan menghubungkan kemampuan dengan kemampuan fisik. Jadi, sukses tidaknya hubungan sosial bergantung dari warisan genetik dibandingkan dengan lingkungan atau kesempatan yang ada.”
·         Pandangan tentang superioritas inilah yang memungkinkan seseorang untuk memperlakukan kelompok lain secara buruk berdasarkan ras, warna kulit, agama, negara asal, nenek moyang, atau orientasi seksual.
Pernyataan Rasisme
·         Bentuk Personal. Rasisme personal terdiri atas tindakan, kepercayaan, perilaku, dan tindakan rasial sebagai bagian dari seorang individu (Blum, 2002).
·         Bentuk Institusional. Rasisme institusional merujuk pada tindakan merendahkan suatu rasa atau perasaan antipati yang dilakukan institusi sosial tertentu seperti sekolah, rumah sakit, perusahaan. Terjadi dengan disengaja maupun tidak disengaja.
Menghindari Rasisme
Samovar (2010) menyebutkan terdapat empat langkah yang dapat mengurangi rasisme dalam diri, yaitu :
1)      Cobalah untuk jujur terhadap diri sendiri ketika memiliki pandangan rasial. Dalam hal ini mencoba melawan pandangan rasial.
2)      Nyatakan ketidaksetujuan terhadap semua lelucon atau hinaan terhadap ras setiap kali mendengarnya.
3)      Hormatilah kebebasan
4)      Analisalah akar sejarah rasisme.

Rasisme, stereotip, dan prasangka sangat mendarah daging, karena dipelajari sejak kecil dan seperti budaya pada umumnya, menjadi cara pandang manusia terhadap dunia ini. Wabah rasisme itu sangat membahayakan masuk dalam pikiran manusia dengan pelan dan diam-diam secara tidak kelihatan dan masuk kedalam tubuh manusia dan menyatudengan nadi darah manusia (Maya Angelou, 2008).

ETNOSENTRISME
Pengertian Etnosentrisme
Nanda & Warms (2007) : “Etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan budaya lainnya. Pandangan bahwa budaya lain dinilai berdasarkan standar budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat budaya lain melalui kacamata budaya kita atau posisi sosial kita.”
Karaktersitik Etnosentrisme
1.      Tingkat Etnosentrisme
a)      Positif, merupakan kepercayaan bahwa, paling tidak bagi anda, budaya anda lebih baik dari yang lain. Hal ini alamiah dan kepercayaan itu berasal dari budaya asli anda.
b)    Negatif, anda mengevaluasi secara sebagian. Anda percaya bahwa budaya anda merupakan pusat dari segalanya dan budaya lain harus dinilai dan diukur berdasarkan budaya anda.
c)      Sangat Negatif, bagi anda tidak cukup hanya dengan menganggap budaya anda sebagai yang paling benar dan bermanfaat, anda juga menganggap budaya anda sebagai yang paling berkuasa dan anda percaya bahwa nilai dan kepercayaan anda harus diadopsi oleh orang lain.
2.      Etnosentrisme Itu Universal
-          Para antropolog setuju bahwa : kebanyakan orang merupakan etnosentris (berpusat/berpangkal pada kebudayaan sendiri). Dan bahwa : kadang sifat etnosentrisme penting untuk mengeratkan hubungan dalam suatu masyarakat (Nanda & Warms, 2007).
-          Seperti budaya, etnosentrisme juga biasanya dipelajari secara tidak sadar.
3.      Etnosentrisme Mempengaruhi Identitas Budaya
-          Etnosentrisme memberikan identitas dan perasaan memiliki kepada anggotanya.
Menghindari Etnosentrisme
·         Pertama, cobalah menghindari dogmatisme (paham/pandangan yang berpegang teguh pada pokok ajaran agama).

·         Kedua, belajarlah untuk memiliki pandangan terbuka. 

Sejarah Perkembangan Antropologi Komunikasi

1)      Fase Pertama (Sebelum 1800)
ü  Kedatangan bangsa Eropa Barat ke Benua Afrika, Asia, dan Amerika selama 4 abad membawa pengaruh bagi berbagai suku bangsa ketiga benua tersebut.
ü  Terkumpul tulisan karya para musafir, pelaut, pendeta penyiar agama Nasrani, penerjemah Kitab Injil dan pegawai pemerintah jajahan dalam bentuk kisah laporan dan sebagainya.
ü  Dalam laporan tersebut terdapat berbagai pengetahuan berupa deskripsi tentang adat istiadat, susunan masyarakat, dan ciri-ciri fisik dari beragam suku bangsa Afrika, Asia, Oseania, maupun suku bangsa Indian. Bahan deskripsi ini disebut ‘Etnografi’.
ü  Timbul pandangan yang bertentangan dari kalangan terpelajar di Eropa Barat pada waktu itu tentang bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Oseania, dan Indian tersebut yaitu :
a)      Bahwa bangsa-bangsa itu bukan manusia sebenarnya, melainkan mereka itu manusia liar, keturunan iblis, dsb. Dengan demikian muncul istilah ‘savage’, ‘primitives’ untuk menyebut bangsa-bangsa tadi.
b)      Bahwa masyarakat pada bangsa-bangsa itu adalah contoh dari masyarakat yang belum murni, belum mengenal kejahatan dan keburukan seperti yang ada dalam masyarakat bangsa-bangsa Eropa Barat pada waktu itu.
c)      Ada yang tertarik akan adat-istiadat yang aneh, dan mulai mengumpulkan benda-benda kebudayaan dari suku-suku bangsa tersebut. Kumpulan tersebut ada yang dihimpun menjadi satu, agar terlihat oleh umum, dengan demikian timbul museum-museum pertama tentang kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa di luar eropa.
ü  Museum Etnografi pertama kali didirikan di Kopenhagen Denmark pada tahun 1841 oleh C.J. Thomsen (Koentjoroningrat, 2009).
ü  Pada permulaan abad ke-19 perhatian terhadap himpunan pengetahuan tentang masyarakat, adat-istiadat dan ciri-ciri fisik bangsa-bangsa di luar Eropa dari pihak dunia ilmiah menjadi sangat besar sehingga timbul usaha-usaha pertama dari dunia ilmiah untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan pengetahuan etnografi tadi menjadi satu.
2)      Fase Kedua (Pertengahan Abad ke-19)
ü  Karangan-karangan etnografi tersebut tersusun berdasarkan cara berfikir evolusi masyarakat, yang dirumuskan sebagai berikut :
Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi dengan sangat lambat yakni dalam jangka waktu beribu-ribu tahun lamanya, dari tingkat-tingkat yang rendah, melalui beberapa tingkat antara, sampai ke tingkat-tingkat tertinggi.
Bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia yang tertinggi itu adalah bentuk masyarakat dan kebudayaan seperti yang hidup di Eropa Barat kala itu.
Semua bentuk masyarakat dan kebudayaan dari bangsa-bangsa di luar Eropa dianggap sebagai contoh dari tingkat kebudayaan yang lebih rendah (primitive), yang masih hidup sampai sekarang sebagai sisa-sisa dari kebudayaan manusia zaman dahulu.

ü  Berdasarkan cara berfikir tersebut, maka semua bangsa di dunia dapat digolongkan menurut berbagai tingkat evolusi itu. Dengan timbulnya beberapa karangan sekitar tahun 1860, yang mengklasifikasikan bahan tentang beragam kebudayaan di seluruh dunia ke dalam tingkat-tingkat evolusi tertentu, maka timbullah ilmu antropologi. Kemudian muncul pula beberapa karangan hasil penelitian tentang sejarah penyebaran kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa di muka bumi.
ü  Pada fase perkembangan yang kedua ini ilmu antropologi merupakan ilmu yang akademikal (tidak mempunyai suatu tujuan secara langsung bersifat praktis, dan hanya dilakukan dalam kalangan para sarjana di universitas-universitas) dengan tujuan yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
Mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk mendapat suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
3)      Fase Ketiga (Permulaan Abad ke-20)
ü  Sebagian negara penjajah di Eropa berhasil mencapai kemantapan kekuasaannya di daerah jajahan-jajahan di luar Eropa.
ü  Untuk keperluan jajahannya tersebut, yang mulai berhadapan langsung dengan bangsa-bangsa di luar Eropa pada waktu itu, maka ilmu antropologi sebagai suatu ilmu yang justru mempelajari bangsa-bangsa di daerah –daerah di luar Eropa itu menjadi sangat penting.
ü  Maka dikembangkan pemahaman bahwa mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa penting karena bangsa-bangsa itu pada umumnya masih mempunyai masyarakat yang belum kompleks seperti masyarakat bangsa-bangsa Eropa (suatu pengertian tentang masyarakat yang tidak kompleks akan menambah juga pengertian orang tentang masyarakat yang kompleks).
ü  Pada fase ketiga ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dan tujuannya dapat dirumuskan sebagai berikut :
Mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks. 
4)      Fase Keempat (Sesudah 1930)
ü  Pada fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangannya yang paling luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti, maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya.
ü  Selain itu, terdapat dua perubahan di dunia, yakni :
a)      Timbulnya antipati terhadap kolonialisme sesudah PD II,
b)      Cepat hilangnya bangsa primitive (dalam arti bangsa-bangsa asli dan terpencil dari pengaruh kebudayaan Eropa-Amerika) yang sekitar tahun 1930 mulai hilang, dan sesudah PD II memang hampir tidak ada lagi di muka bumi.
ü  Proses-proses tersebut menyebabkan ilmu antropologi seolah-olah kehilangan lapangan, dan dengan demikian terdorong untuk mengembangkan lapangan-lapangan penelitian dengan pokok dan tujuan yang baru. Warisan dari fase-fase perkembangan semula, dipakai sebagai landasan bagi perkembagannya yang baru.
ü  Perkembangan itu terutama terjadi di universitas-universitas di AS, tetapi menjadi umum di negara-negara lain juga setelah yahun 1951, ketika 60 orang tokoh ahli antropologi dari berbagai negara di Amerika dan Eropa (termasuk Uni Soviet), mengadakan simposium internasional untuk meninjau dan merumuskan pokok tujuan dan ruang lingkup dari ilmu antropologi yang baru itu.
ü  Pokok atau sasaran penelitian para ahli antropologi sudah sejak tahun 1930, memang tidak lagi hanya suku-suku bangsa primitif yang tinggal di benua-benua di luar Eropa saja, tetapi sudah beralih kepada manusia di daerah pedesaan pada umumnya, ditinjau dari sudut keragaman fisiknya, masyarakatnya, serta kebudayaannya.
ü  Mengenai tujuannya, ilmu antropologi yang baru dalam fase perkembangannya yang keempat ini dapat dibagi menjadi dua, yakni :
Tujuan akademisnya adalah mencapai pengertian tentang makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari keragaman bentuk fisiknya, masyarakatnya, serta kebudayaaannya.

Tujuan praktisnya adalah mempelajari manusia dalam keragaman masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa itu.  

Antropologi Sebagai Landasan Ilmu Komunikasi

Antropologi dikatakan sebagai salah satu akar atau landasan lahirnya ilmu komunikasi. Seiring dengan perkembangan antropologi tersebutlah akhirnya para ahli budaya melihat jika dalam budaya juga sangat tergantung pada komunikasi. Hal inilah yang kemudian dikaji mengenai proses dari komunikasi tersebut sehingga lahirlah ilmu komunikasi dari antropologi. Namun untuk lebih jelasnya mengenai keterkaitan tersebut sebaiknya terlebih dahulu melihat mengenai antopologi dan komunikasi itu sendiri.
Kebudayaan adalah komunikasi simbolis, simbolisme itu adalah keterampilan kelompok, pengetahuan, sikap, nilai, dan motif. Makna dari simbol-simbol itu dipelajari dan disebarluaskan dalam masyarakat melalui institusi. Menurut Levo-Henriksson (1994), kebudayaan itu meliputi semua aspek kehidupan kita setiap hari, terutama pandangan hidup – apapun bentuknya – baik itu mitos maupun sistem nilai dalam masyarakat. Ross (1986,hlm 155) melihat kebudayaan sebagai sistem gaya hidup dan ia merupakan faktor utama (common domitor) bagi pembentukan gaya hidup (Alo Liliweri, 2003,8-9.
Peradaban Romawi dan Yunani menjadi dasar bagi antropologi terutama yang berkaitan dengan masalah estetika, etika, metafisika, logam dan sejarah. Mempelajari antropologi dapat dilihat dari segi sejarah harus didasarkan pada orientasi humanistik, sejarah dan ilmu alam, karena perbedaan kondisi iklim dan keadaan permukaan tanah akan membawa peradaban keaadaan fisik, karakteristik dan konstitusi suatu masyarakat yang berbeda (Hipocrates 1962: 135). Memformulasikan tradisi filosofis dan tradisi keilmuan akan memberikan proposisi-proposisi sebagai berikut;
1)      Segala sesuatu itu mempunyai sebuah bentuk yang menentukan maksud dari bentuk tersebut
2)      Semua hal yang ada dalam suatu Negara akan mengalami perubahan secara terus menerus; perubahan tersebut akan berkisar antara integrasi dan disintegrasi
3)      Setiap bentuk merupakan sebuah struktur yang setiap bagiannya tersusun secara berbeda-beda tergantung dari kepentingannya
4)      Desain setiap bagian memberikan sumbangan pada keseluruhan sistem sosial melalui aktualisasi
5)      Dalam setiap sistem terjadi penyaringan untuk membuat keseimbangan dalam setiap bagian sistem.
6)      Perubahan yang terjadi pada salah satu bagian system akan menganggu aktivitas dan akan mengakibatkan ketidak harmonisan dalam sistem tersebut.
7)      Perubahan secara besar-besaran merupakan hasil modifikasi internal dari suatu bagian yang sedang diperluas dan kemudian dikontrol dengan membangun kembali harmosisasi dalam sistem.

Budaya sebagai konsep sentral. Linton (1945:32) memberikan definisi budaya secara spesifik, yaitu, budaya merupakan konfigurasi dari prilaku manusia dari elemen-elemen yang ditransformasikan oleh anggota masyarakat. Budaya secara umum telah dianggap sebagai milik manusia, dan digunakan sebagai alat komunikasi sosial di mana didalamnya terdapat proses peniruan. Selanjutnya konsep budaya telah menuntun para pakar etnologi Amerika dan Jerman kedalam suatu bentuk teoritik. Setelah Radcliffe-Brown (1965:5) para ilmuan antropologi sosial Prancis dan Inggris cenderung untuk membedakan konsep budaya dan sosial dan cenderung membatasi kedua konsep tersebut pada cara belajar berfikir, merasa, dan bertindak, yang merupakan dari proses sosial.
C. Kluchohn menghimpun dan menerbitkan kembali 164 definisi kebudayaan yang dikelompokkan menjadi enam: deskriptif, historikal, normatif, psikologis, struktural dan genetik (Saifuddin, 2005: 83), Klukhohn melalui Universal Categories od Culture (1953) merumuskan 7 unsur kebudayaan yang unierasl (Koentjaraningrat, 1979: 218) yaitu:
a)      Sistem teknologi, yaitu peralatan dan perlengkapan hidup menusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi transport dan sebagainya.
b)      Sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekomoni (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan lainnya).
c)      Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum dan sistem perkawinan).
d)     Bahasa (lisan dan tulisan).
e)      Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya).
f)       Sistem pengetahuan.
g)      Religi (sistem kepercayaan) (Burhan Bungin, 2006: 53).

Setiap praktik komunikasi pada dasarnya adalah suatu representasi budaya, atau tepatnya suatu peta atas suatu relitas (budaya) yang sangat rumit. Komunikasi dan budaya adalah dua entitas tak terpisahkan, sebagaimana dikatakan Edward T. Hall, “budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Begitu kita mulai berbicara tentang komunikasi, tak terhindarkan, kita pun berbicara tentang budaya (Deddy Mulyana, 2004 :14).
Budaya dan komunikasi berinteraksi secara erat dan dinamis. Inti budaya adalah komunikasi. Karena budaya muncul melalui komunikasi. Akan tetapi pada gilirannya budaya yang tercipta pun mempengaruhi cara berkomunikasi anggota budaya yang bersangkutan. Hubungan antara budaya dan komunikasi adalah timbal balik. Budaya takkan eksis tanpa komunikasi dan komunikasi pun takkan eksis tanpa budaya. Entitas yang satu takkan berubah tanpa perubahan entitas lainnya. Menurut Alfred G. Smith, budaya adalah kode yang kita pelajari bersama dan untuk itu dibutuhkan komunikasi. Komunikasi membutuhkan perkodean dan simbol-simbol yang harus dipelajari. Godwin C. Chu mengatakan bahwa setiap pola budaya dan tindakan melibatkan komunikasi. Untuk dipahami, keduanya harus dipelajari bersama-sama. Budaya takkan dapat dipahami tanpa mempelajari komunikasi, dan komunikasi hanya dapat dipahami dengan memahami budaya yang mendukungnya (Deddy Mulyana, 2004: 14).
Beberapa bidang konsep antropologi budaya yang dikaji yang sangat relavan dengan komunikasi yaitu;
1)      Objek simbol, umpamanya bendara melambangkan bangsa dan uang menggambarkan pekerjaan dan barang-barang dagangan (komoditi)
2)      Karakteristik objek dalam kultur manusia. contoh warna unggu dipahami untuk “kerajaan”, hitam untuk “duka cita” warna kuning untuk “kekecutan hati”, putih untuk untuk “kesucian”, merah untuk “keberanian” dan sebagainya
3)      Ketiga adalah gesture dimana tindakan yang memiliki makna simbolis, senyuman dan kedipan, lambaian tangan, kerutan kening, masing-masing memiliki makna tersendiri dan semuanya memiliki makna dalam konteks cultural.
4)      Simbol adalah jarak yang luas dari pembicaraan dan kata-kata yang tertulis dalam meyusun bahsa. Bahasa adalah kumpulan simbol paling penting dalam kultur.

Gatewood menjawab bahwa kebudayaan yang meliputi seluruh kemanusian itu sangat banyak, dan hal tersebut meliputi seluruh periode waktu dan tempat. Artinya kalau komunikasi itu merupakan bentuk, metode, teknik, proses sosial dari kehidupan manusia yang membudaya, maka komunikasi adalah sarana bagi transmisi kebudayan, oleh karena itu kebudayaan itu sendiri merupakan komunikasi. Berdasarkan pendapat Gatewood itu kita akan berhadapan dengan pernyataan klasik tentang hubungan antara komunikasi dengan kebudayaa, apakah komunikasi dalam kebudayaan atau kebudayaan ada dalam komunikasi? ada satu jawaban netral yang disampaikan oleh Smith (1976) bahwa; “komunikasi dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan”. Dalam tema atau bagian uraian tentang kebudayaan dan komunikasi, sekurangnya-kurangnya ada dua jawaban: pertama, dalam kebudayaan ada sistem dan dinamika yang mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi, dan kedua, hanya dengan komunikasi maka pertukaran simbol-simbol dapat dilakukan dan kebuadayaan hanya akan eksis jika ada komunikasi (Alo Leliweri, 2004, 21).
Budaya adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Masyarakat terbentuk dari nilai norma yang mengatur mereka. Manusia merupakan homostatis di mana komunikasi membentuk kebudayaan dan juga bagian dari kebuadayaan itu sendiri. Dalam kehidupan budaya masyarakat dan interaksi menyebabkan maka terjadinya proses komunikasi yang menjadi alat bantu atau guna membantu mereka dalam berinteraksi dengan baik. Bahasa yang merupakan alat komunikasi juga sangat dipengaruhi oleh proses budaya. Dengan adanya kesamaan mengenai memaknai sesuatu tersebutlah sehingga membentuk suatu kebudayaan yang lebih baik dalam interaksi. Pengaruh komunikasi yang disebabkan oleh budaya ini pulalah yang menjadikan perbedaan pemaknaan dari setiap budaya masyarakat dalam berkomunikasi. Jadi, antropologi merupakan ilmu yang lebih dahulu ada dalam memahami perkembangan interaksi manusia, kemudian antropologi ini terus berkembang sehingga mulai melihat dan mengkaji pada proses komunikasi yang tercipta. Inilah yang kemudian menjadikan antropologi menjadi salah satu landasan sehingga lahirnya ilmu komunikasi.
Komunikasi, sosial, budaya, dan perkembangan peradaban sekarang ini adalah tidak hanya sekedar unsur-unsur dan kata-kata saja tetapi merupakan konsep yang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Sehingga studi komunikasi sangat dipengaruhi oleh kajian antropologi begitu juga perkembangan antropologi yang didasarkan pada kekuatan manusia dalam menciptakan peradabannya sangat terkait oleh komunikasi.


Daftar Pustaka:
Alo Leliweri, 2003, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, LKIS, Yogyakarta.
_________, 2004, Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Deddy Mulyana, 2004, Komunikasi Efektif, Suatu Pendekatan Lintasbudaya, Remaja Rosda Karya, Bandung.