Tampilkan postingan dengan label Manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Desember 2014

Sistem Pengendalian Manajemen

Sistem pengendalian manajemen pada dasarnya suatu sistem yang digunakan oleh manajemen untuk membangun masa depan organisasi. untuk membangun masa depan organisasi, perlu ditentukan lebih dahulu dalam bisnis apa organisasi akan berusaha. Jabawan atas pertanyaan tersebut merupakan misi organisasi dengan demikian misi organisasi merupakan the chosen track untuk membawa organisasi mewujudkan masa depannya. Diharapkan dengan dilaksanakannnya struktur sistem manajemen akan tercipta visi dan misi organisasi perusahaan kemudian mengimplementasikannya.
Permasalahan yang timbul dalam implementasi struktur sistem pengendalian manajemen yang dapat diidentifikasikan sekarang ini adalah terletak pada kelemahan struktur dan kelemahan proses. Sistem pengendalian manajemen tidak dapat mewujudkan tujuan sistem kemungkinan karena strukturnya tidak pas dengan lingkungan yang dihadapi perusahaan, dapat juga terjadi tujuan sistem pengendalian manajemen tidak tercapai karena proses sistem pengendalian manajemennya lemah.
Dampak yang timbul dikarenakan perusahaan tidak memberlakukan struktur sistem pengendalian manajemen antara lain organisasi perusahaan akan kesulitan menghadapi berbagai perubahan tajam radikal, konstan, pesat, serentak sehingga roda organisasi tidak akan jalan dan tidak dapat membuat berbagai perencanaan, tidak dapat memprediksi target organisasi ke depannya
Untuk menghadapinya diperlukan struktur sistem pengendalian manajemen dimulai dari pengamatan dan pengindetifikasian memacu perubahan (change drivers) yang berdampak terhadap karakteristik lingkungan yang akan dimasuki perusahaan.) Struktur sistem merupakan komponen-komponen yang berkaitan erat satu dengan lainnya yang secara bersama-sama digunakan untuk mewujudkan tujuan sistem seperti yang dikatakan Mulyadi, Johny (2001 : 8) bahwa struktur pengendalian manajemen terdiri dari tiga komponen yaitu Struktur organisasi, Jejaring informasi dan Sistem penghargaan. Kerangka pendesainan struktur sistem pendesainan pengendalian manajemen mempergunakan pendekatan contigen

Struktur Sistem Pengendalian Manajemen
Struktur sistem pengendalian manajemen merupakan komponen-komponen yang berkaitan dengan lainnya yang secara bersama-sama membentuk sistem. Setiap komponen dalam struktur memiliki fungsi tertentu untuk mencapai tujuan sistem. Struktur yang sehat adalah struktur sistem yang setiap komponennya didesain sesuai dengan tuntutan lingkungan bisnis yang akan diterapi sistem tersebut.
Dalam membangun struktur organisasi dibangun berdasarkan fungsi yang dituntut dari organisasi yang bersangkutan, jika organisasi dibangun untuk memasuki lingkungan bisnis yang menuntut kecepatan pengambilan keputusan yang di dalamnya costumer memegang kendali bisnis dan yang mempekerjakan knowlegde workes, struktur organisasi yang pas dengan fungsi organisasi tersebut adalah yang memiliki karakteristik, cepat respon, fleksibel dan inovatif.
Struktur sistem pengendalian manajemen diperlukan oleh organisasi perusahaan karena menuntut semua perusahaan yang memasukil lingkungan tersebut memiliki kekuatan lebih untuk bersaing. Agar dapat dipilih oleh costumer, produk dan jasa perusahaan harus memiliki keunggulan tidak akan bertahan lama, karena pesaing akan mencari berbagai cara untuk menghasilkan value terbaik bagi costumer. Oleh karena itu, untuk tetap bertahan dan bertumbuh di lingkungan bisnis yang kompetitif, perusahaan dituntut untuk secara berkelanjutan menemukan kembali keunggulan daya saing.
Untuk dapat bertahan dan bertumbuh dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, organisasi perusahaan tidak cukup hanya mampu menjadi pencipta kekayaan (wealth-creating institution) namun, dituntut untuk memiliki kemampuan jauh lebih dari itu, perusahaan dituntut untuk menjadi institusi pelipatgandaan kekayaan (wealth-multiplying institution) untuk membangun kemampuan perusahaan sebagai pelipat gandaan kekayaan, manajemen perlu memanfaatkan sistem manajemen yang khusus didesain untuk tujuan pelipatgandaan kekayaan.
Sistem pengendalian yang efektif adalah sistem yang diarahkan kepada dua penyebab, diperlukannya pengendalian ketidakmampuan personel dalam mencapai tujuan organisasi melalui perilaku yang diharapkan, ketidak mampuan personel di dalam mencapai tujuan dapat dtingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan, serta penyediaan teknologi memadai, ketidak mampuan personel dalam mencapai tujuan organisasi melalui prilaku yang diharapkan dapat dikurangi atau dihilangkan melalui :
1.      Perumusan Misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi secara jelas.
2.      Pengkomunikasian misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi kepada personel perusahaan melalui personal behaviors para pemimpin organisasi dan operational behavior.

Melalui proses internalisasi, misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi dapat tertanam di dalam diri seluruh personel menjadi shared mission, shared vision, shared beliefs dan shared values.Shared mission, shared vision, shared belief dan shared values menjadikan karyawan berdaya untuk mengendalikan perilakunya sesuai dengan yang diharapkan di dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sistem pengendalian manajemen juga menyediakan berbagai sistem untuk melaksanakan proses perencanaan dan implementasi rencana. Melalaui sistem pengendalian manajemen, keseluruhan kegiatan utama untuk menjadikan perusahaan sebagai institusi pencipta kekayaan dapat dilaksanakan secara terstruktur, terkoordinasi, terjadwal dan terpadu sehingga menjanjikan tercapainya tujuan perusahaan-perusahaan bertambahnya kekayaan dalam jumlah yang memadai

Proses Struktur Sistem Pengendalian Manajemen
Proses sistem pengendalian manajemen terdiri dari enam tahap utama berikut ini :
1.      Perumusan Strategi
Tahap perumusan strategi adalah tahap yang sangat menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan organisasi. Dalam tahap ini dilakukan pengamatan terhadap tren perubahan lingkungan makro dan lingkungan industri. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tren tersebut dilakukan perumusan, misi, visi, tujuan, keyakinan dasar, dan nilai organisasi.
2.      Perencanaan Strategik
Setelah perusahaan merumuskan tentang strategi yang dipilih untuk mewujudkan visi dan misi melalui organisasi, strategi tersebut kemudian perlu diimplementasikan. Langkah pertama adalah melaksanakan perencanaan strategik, dalam langkah ini strategi yang telah dirumuskan diterjemahkan ke dalam neraca strategik yang komprehensif dan koheren, yang terdiri dari tiga komponen : sasaran strategik, target, inisiatif strategik
3.      Penyusun Program
Penyusunan program adalah proses penyusunan rencana jangka panjang untuk menjabarkan inisiatif strategik yang dipilih untuk mewujudkan sasaran strategik. Pelaksanaan inisiatif strategik memerlukan perencanaan sistematik langkah-langkah yang akan ditempuh oleh perusahaan dalam jangka panjang ke depan beserta taksiran sumber daya yang diperlukan untuk program, suatu rencana jangka panjang yang berisi langkah-langkah strategik yang dipilih untuk mewujudkan sasaran strategik tertentu beserta taksiran sumberdaya yang diperlukan
4.      Penyusunan Anggaran
Penyusunan anggaran adalah proses penyusunan rencana jangka pendek (biasanya untuk jangka waktu satu tahun) yang berisi langkah-langkah yang ditempuh oleh perusahaan dalam melaksanakan sebagian dari program dalam penyusunan anggaran dijabarkan program tertentu ke dalam rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam tahun anggaran, ditunjukkan manajer dan karyawan yang bertanggung jawab dan dialokasikan sumberdaya untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
5.      Implementasi
Setelah rencana menyeluruh selesai disusun, langkah berikutnya adalah implementasi rencana. Dalam tahap implementasi rencana ini, manajemen dan karyawan melaksanakan rencana yang tercantum dalam anggaran ke dalam kegiatan nyata. Oleh karena anggaran adalah bagian dari program, dan program merupakan penjabaran sasaran strategik dipilih sebagai penjabaran strategi yang dirumuskan, maka dalam implementasi rencana, manajemen dan karyawan harus senantiasa menyadari keterkaitan erat diantara implementasi, anggaran, program, inisiatif, sasaran strategik dan strategi. Kesadaran demikian akan mempertahankan langkah-langkah rinci yang dilaksanakan dalam tahap implementasi tetap dalam rerangka yang dipilih untuk mewujudkan visi organisasi.
6.      Pemantauan

Implementasi rencana memerlukan pemantauan, hasil setiap langkah yang direncanakan perlu diukur untuk memerlukan umpan balik bagi pemantauan pelaksanaan anggaran, program, dan inisiatif strategik. Hasil implementasi rencana juga digunakan untuk memberikan informasi bagi pelaksana tentang seberapa jauh target telah berhasil dicapai, sasaran strategik telah berhasil diwujudkan dan visi organisasi dapat dicapai.

Jenis-Jenis Pengendalian

Jenis-jenis pengendalian menurut Malayu S.P. Hasibuan adalah sebagai berikut:
1)      Pengendalian Karyawan (Personnel Control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang ada hubungannya dengan kegiatan karyawan. Misalnya apakah karyawan bekerja sesuai dengan rencana, perintah, tata kerja, disiplin, absensi, dan sebagainya.
2)      Pengendalian Keuangan (Financial Control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang menyangkut keuangan, tentang pemasukan dan pengeluaran, biaya-biaya perusahaan termasuk pengendalian anggaran.
3)      Pengendalian Produksi (Production Control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan, apakah sesuai dengan standar atau rencananya.
4)      Pengendalian Waktu (Time Control)
Pengendalian ini ditujukan kepada penggunaan waktu, artinya apakah waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan sesuai atau tidak dengan rencana.
5)      Pengendalian Teknis (Technical Control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang bersifat fisik yang berhubungan dengan tindakan dan teknis pelaksanaan.
6)      Pengendalian Kebijaksanaan (Policy Control)
Pengandalian ini ditujukan untuk mengetahui dan menilai, apakah kebijaksanaan-kebijaksanaan organisasi telah dilaksanakan sesuai yang telah digariskan.
7)      Pengendalian Penjualan (Sales Control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui, apakah produksi atau jasa yang dihasilkan terjual sesuai dengan target yang ditetapkan.
8)      Pengendalian Inventaris (Inventory Control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui, apakah inventaris perusahaan masih ada semuanya atau ada yang hilang.
9)      Pengendalian Pemeliharaan (Maintenance Control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui, apakah semua inventaris perusahaan dan kantor dipelihara dengan baik atau tidak, dan jika ada yang rusak apa kerusakannya, apa masih dapat diperbaiki atau tidak.

Macam-Macam Pengendalian
Pengendalian ini dikenal atas beberapa macam, yaitu :
1.      Internal control (pengendalian intern)
Pengendalian yang dilakukan oleh seorang atasan kepada bawahannya. Cakupan dari pengendalian ini meliputi hal-hal yang cukup luas baik pelaksanaan tugas, prosedur kerja , kedisiplinan karyawan, dan lain-lainya. Audit control, adalah pemeriksaan atau penilaian atas masalah-masalah yang berkaitan dengan pembukuan perusahaan. Jadi pengawasan atas masalah khusus, yaitu tentang kebenaran pembukuan suatu perusahaan.
2.      External control (pengendalian ekstren)
Pengendalian yang dilakukan oleh pihak luar. Pengendalian ekstren ini dapat dilakukan secara formal atau informal, misalnya pemeriksaan pembukuan oleh kantor akuntan dan penilaian yang dilakukan oleh masyarakat.
3.      Formal control (pengendalian resmi)
Pemeriksaan yang dilakukan oleh instansi atau penjabat resmi dan dapat dilakukan secara intern maupun ekstern. Misalnya: pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap BUMN dan lain-lainya. Dewan Komisaris terhadap PT bersangkutan.
4.      Informal control (pengendalian konsumen)

Penilaian yan dilakukan oleh masyarakat atau konsumen, baik langsung maupun tidak langsung. Misalnya melalui media massa cetak atau elektronik, dan lain-lainya.

Konsep Dasar Pengendalian

Pengendalian (pengawasan) atau controlling adalah bagian terakhir dari fungsi manajemen. Fungsi ini sangat penting dan sangat menentukan pelaksanaan proses manajemen, karena itu harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Fungsi manajemen yang dikendalikan adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian itu sendiri. Kasus-kasus yang banyak terjadi dalam organisasi adalah akibat masih lemahnya pengendalian sehingga terjadilah berbagai penyimpangan antara yang direncanakan dengan yang dilaksanakan.
Pengendalian adalah proses pemantauan, penilaian dan pelaporan rencana atas pencapaian tujuan yang telah ditetapkan untuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut. Beda pengawasan dengan pengendalian adalah pada wewenang dari pengembang kedua istilah tersebut. Pengendalian memiliki wewenang turun tangan yang tidak dimiliki oleh pengawas. Pengawas hanya sebatas memberi saran, sedangkan tindak lanjutnya dilakukan oleh pengendali.

A.       Pengertian Pengendalian
·         Pengendalian /Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Controlling is the process of measuring performance and taking action to ensure desired results. (Schermerhorn,2002)
·         Pengendalian/Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan. The process of ensuring that actual activities conform the planned activities.(Stoner,Freeman,&Gilbert,1995)
·         Pengendalian menurut Hansen & Mowen adalah proses penetapan standar dengan menerima umpan balik berupa kinerja sesungguhnya, dan mengambil tindakan yang diperlukan jika kinerja sesungguhnya berbeda secara signifikan dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.
·         Pengendalian merupakan usaha sistematik perusahaan untuk mencapai tujuan dengan cara membandingkan prestasi kerja dengan rencana dan membuat tindakan yang tepat untuk mengkoreksi perbedaan yang penting (Usyr & Hammer, 1994 : 5).
·         Pengendalian adalah suatu proses untuk menjamin terciptanya kinerja yang efisien yang memungkinkan tercapainya tujuan perusahaan (Glenn A. Welsch, Hilton & Gordon dalam Purwatiningsih & Maudy Warouw, 2000 : 3).
·         Earl P. Strong : Controlling is the process of regulating the various factor in an enterprise according to the requirement of its plans. (Pengendalian adalah proses pengaturan berbagai faktor dalam suatu perusahaan, agar pelaksanaan sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana)
·         Harold Koontz : Control is the measurement and correction of the performance of subordinates in order to make sure that enterprise objectives and the plans devised to attain then are accomplished. (Pengendalian adalah pengukuran dan perbaikan terhadap pelaksanaan kerja bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan dapat terselenggara)
·         G.R. Terry : Contolling can be defined as the process of determining what is to be accomplished, that is the standard, what is being accomplished, that is the performance, evaluating the performance and if necessary applying corrective measure so that performance takes place according to plans, that is in conformity with the standard. (Pengendalian dapat didefinisikan ssebagai proses penentuan, apa yang harus dicapai yaitu standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan apabila perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras dengan standar)
·         Robert J. Mockler : Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapakan standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.

B.       Asas-Asas Pengendalian
Harold Koontz dan Cyirl O’Donnel mengemukakan asas-asas pengendalian yaitu:
1)      Asas Tercapainya Tujuan
Pengendalian harus ditujukan ke arah tercapainya tujuan yaitu dengan mengadakan perbaikan untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan dari rencana.
2)      Asas Efisiensi Pengendalian
Pengendalian itu efisien,jika dapat menghindari penyimpangan dari rencana, sehingga tidak menimbulkan hal-hal lain yang di luar dugaan.
3)      Asas Tanggung Jawab Pengendalian  
Pengendalian hanya dapat dilaksanakan jika jika manajer bertanggung jawab terhadap pelaksanaan rencana.
4)      Asas Pengendalian terhadap Masa depan
Pengendalian yang efektif harus ditujukan ke arah pencegahan penyimpangan-penyimpangan yang akan terjadi, baik pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang.
5)      Asas Pengendalian Langsung
Teknik kontrol yang paling efektif ialah mengusahakan adanya manajer bawahan yang berkualitas baik. Pengendalian itu dilakukan oleh manajer, atas dasar bahwa manusia itu sering berbuat salah. Cara yang paling tepat untuk menjamin adanya pelaksanaan yang sesuai dengan rencana adalah mengusahakan sedapat mungkin para petugas memiliki kualitas yang baik.
6)      Asas Refleksi Rencana
Pengendalian harus disusun dengan baik sehingga dapat mencerminkan karakter dan susunan rencana.
7)      Asas Penyesuaian dengan Organisasi
Pengendalian harus dilakukan sesuai dengan struktur organisasi. Manajer dengan bawahannya merupakan sarana untuk melaksanakan rencana. Dengan demikian pengendalian yang efektif harus disesuaikan dengan besarnya wewenang manajer sehingga mencerminkan struktur organisasi.
8)      Asas Penendalian Individual
Pengendalian dan teknik pengendalian harus sesuai dengan kebutuhan manajer. Teknik pengendalain harus ditujukan terhadap kebutuhan-kebutuhan akan informasi setiap manajer.
9)      Asas Standar
Pengendalian yang efektif dan efisien memerlukan standar yang tepat yang akan dipergunakan sebagai tolok ukur pelaksanan dan tujuan yang akan dicapai.
10)  Asas Pengendalian Terhadap Strategis
Pengendalian yang efektif dan efisien memerlukan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faktor-faktor yang strategis dalam perusahaan.
11)  Asas Kekecualian
Efisiensi dalam pengendalian membutuhkan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faktor kekecualian.
12)  Asas Pengendalian Fleksibel
Pengendalian harus luwes untuk menghindari kegagalan pelaksanaan rencana.
13)  Asas Peninjauan Kembali
Sistem pengendalian harus ditinjau berkali-kali agar sistem yang digunakan berguna untuk mencapai tujuan.
14)  Asas Tindakan

Pengendalian dapat dilakukan apabila ada ukuran-ukuran untuk mengoreksi penyimpangan-penyimpangan rencana, organisasi, staffing, dan directing.

Proses dan Tingkatan Perencanaan

A.       Proses Perencanaan
Perencanaan pada dasarnya merupakan suatu proses untuk menetapkan di awal berbagai hasil akhir (end results) yang ingin dicapai organisasi di masa mendatang. Hasil akhir yang ingin dicapai oleh organisasi dinyatakan dalam bentuk berbagai tujuan (goals) yang hendak dicapai organisasi dalam suatu kerangka waktu tertentu. Selanjutnya para pimpinan organisasi akan merumuskan berbagai rencana tindakan yang memungkinkan organsiasi mencapai tujuan tersebut (strategy). Dengan demikian, proses perencanaan pada dasarnya merupakan suatu proses pembuatan tujuan (goal making process) sekaligus juga merupakan proses pembuatan strategi (strategy making process) (Jones & George, 2007: 202).

B.       Tingkatan Perencanaan
Di dalam sebuah organisasi/perusahaan, perencanaan terjadi pada 3 (tiga) jenjang manajemen perusahaan (Solihin, 2012 : 10), yakni :
1.      Perencanaan Tingkat Korporat (Corporate Level)
·         Rencana pada tingkat ini mencakup : penetapan visi, misi, dan tujuan-tujuan organisasi, strategi yang dikembangkan dan struktur korporasi yang dipilih oleh organisasi.
·         Misi dan tujuan organisasi selanjutnya akan menjadi pedoman untuk menentukan tujuan divisi dan tujuan berbagai fungsi organisasi.
·         Untuk mencapai tujuan organisasi, maka dibuatlah strategi pada tingkat korporat, strategi ini akan memberikan arah dalam indutri dan pasar mana organisasi akan bersaing.
2.      Perencanaan Tingkat Divisi (Division Level)
Para pimpinan pada tingkat divisi akan mengembangkan perencanaan pada tingkat divisi yang mencakup : tujuan jangka panjang dan pembuatan strategi serta struktur pengendalian pada tingkat divisi.
3.      Perencanaan Tingkat Fungsional/Departemen (Functional/Departement Level)
·         Para pimpinan pada tingkat fungsional (contoh dalam perusahaan bisnis : manajer produksi, manajer akuntansi, manajer pemasaran, manajer SDM, dll.) akan mengembangkan rencana pada tingkat fugsional/departemen.

·         Rencana pada tingkat ini akan menetapkan tujan yang ingin dicapai oleh masing-masing fungsi yang akan menjamin tercapainya tujuan.

Sumber :
·         Solihin, Ismail. 2012. Manajemen Strategik. Jakarta : Erlangga.
       Jones, G.R. & George, J. M. 2007. Essential of Contemporary Management. Ed. 2. McGraw Hill 

Ruang Lingkup Perencanaan

Fungsi perencanaan seringkali dinamakan sebagai fungsi utama dari kegiatan manajemen, karena dalam perencanaan seluruh rangkaian aktivitas yang akan dilakukan, mengapa dilakukan, kapan, dimana, dan bagaimana melakukannya disusun. Jika tidak ada fungsi perencanaan, manajer tidak akan pernah tahu apa yang harus diorganisasikan, diarahkan, dan dikontrol. Bagaimana perencanaan dilakukan? Proses perencanaan melibatkan 2 (dua) elemen penting, yakni tujuan (goals) dan rencana (plan).

A.       Pengertian Tujuan
Tujuan merupakan hasil akhir yang diharapkan dapat diraih oleh individu, kelompok, atau seluruh organisasi.

B.       Jenis-Jenis Tujuan
1.      Dari segi jumlah :
a)     Tujuan tunggal (single goals)
b)     Tujuan yang banyak (multiple goals)
2.      Dari segi kejelasan :
a)     Tujuan yang dinyatakan (stated goals)
Merupakan tujuan yang dinyatakan secara formal oleh sebuah organisasi kepada publik, dan menjadi jaminan akan kejelasan organisasi di mata publik. Contoh : “meningkatkan kepuasan pelanggan”. Dengan adanya pernyataan tersebut maka pelanggan akan dapat mengevaluasi apakah dalam kenyataannya perusahaan berhasil meningkatkan kepuasan pelanggan ataukah tidak.
b)     Tujuan yang aktual dan nyata (real goals)
Merupakan tujuan yang tidak dinyatakan pada publik, akan tetapi secara aktual dan nyata berusaha dicapai oleh para anggota di dalam organisasi. Contoh : “meningkatkan insentif bagi karyawan yang berprestasi dalam bekerja”.
3.      Dari segi keluasan dan waktu pencapaian :
a)     Tujuan strategis (strategic goals)
Tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi dalam jangka waktu yang relatif lama (3-5 tahun). Contoh : “menjadi market leader  dalam bisnis makanan siap saji”.
b)     Tujuan taktis (tactical goals)
Tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi dalam jangka waktu menengah, relatif lebih singkat dari tujuan strategis (1-3 tahun). Contoh : “meningkatkan pangsa pasar sebesar 30%”.
c)      Tujuan operasional (operational goals)
Tujuan yang infin dicapai oleh organisasi dalam satu periode kegiatan organisasi (6 bulan-1 tahun). Contoh : “meningkatkan penjualan makanan siap saji sebesar 20% di setiap outlet.

C.        Pengertian Rencana
Rencana merupakan segala bentuk konsep dan dokumentasi yang menggambarkan bagaimana tujuan akan dicapai dan bagaimana sumber daya organisasi akan dialokasikan, penjadwalan dari proses pencapaian tujuan, hingga segala hal yang terkait dengan pencapaian tujuan.
  
D.       Jenis-Jenis Perencanaan
1.      Dari segi keluasan dan waktu :
a)     Rencana strategis/jangka panjang (strategic plans/long-term plans)
Rencana yang akan dijalankan oleh seluruh komponen dalam organisasi, dan dibuat dalam rangka pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan. Contoh : “bagaimana agar organisasi bisa menjadi market leader dalam makanan siap saji disusun dalam rencana strategis atau jangka panjang.”
b)     Rencana taktis/jangka menengah (tactical plans/mid-term plans)
Rencana yang dijalankan untuk mencapai tujuan jangka menengah dan sebagai dorongan tercapaianya tujuan jangka panjang. Contoh : “bagaimana peningkatan pangsa pasar sebesar 30% dirumuskan dalam perencanaan taktis atau jangka menengah.”
c)      Rencana operasional/jangka pendek (operational plans/short-term plans)

Rencana yang dijalankan untuk tujuan jangka pendek, dan sebagai dorongan tercapainya tujuan jangka menengah. Contoh : “bagaimana peningkatan penjulalan makanan siap saji sebesar 20% di setiap outlet dirmuskan dalam rencana ini.

Tujuan organisasi secara keseluruhan dapat dicapai jika tujuan strategis dapat tercapai dalam jangka waktu yang ditentukan. Untuk mencapai tujuan strategis, maka disusun rencana strategis. Indikator keberhasilan dari rencana strategis dapat dilihat dari tujuan-tujuan taktisnya. Apabila tujuan taktis tercapai, maka rencana strategis berjalan dengan baik. Agar tujuan taktis dapat dicapai, maka disusun rencana taktis yang disusun untuk pencapaian tujuan dalam jangka waktu menengah. Indikator keberhasilan dari rencana taktis dapat dilihat dari pencapaian tujuan-tujuan operasionalnya. Jika tujuan-tujuan operasional tercapai, maka rencana taktis dianggap berjalan dengan semsertinya. Agar tujuan operasional dapat dicapai, maka perlu disusun rencana-rencana operasional. Rencana operasional inilah yang menjadi rumusan rencana yang harus dilakukan oleh organisasi pada jangka waktu pendek. Pencapaian tujuan jangka pendek melalui pelaksanaan dari rencana jangka pendek atau operasional akan menetukan pencapaian tujuan dan rencana diatasnya.


1.      Dari segi kejelasan :
a)     Rencana spesifik (specific plans)
Rencana yang rumusannya sudah jelas dan tidak memerlukan interpretasi (penafsiran). Contoh : “manajer yang menetapkan adanya peningkatan pangsa pasar sebesar 30% barangkali akan membuat rencana yang sangat jelas seperti; prosedur kerja yang spesifik, alokasi anggaran yang ketat, dan penjadwalan yang sudah jelas dan ketat.”
b)     Rencana direktif (directional plans)
Rencana yang dirmuskan untuk tujuan tertentu, akan tetapi pada pencapaiannya memberikan keleluasaan atau fleksibilitas untuk pencapaiannya. Contoh : “bagaimana peningkatan pangsa pasar sebesar 30% dapat dicapai barangkali tidak memerlukan rencana yang begitu spesifik. Manajer dapat menyerahkan sepenuhnya pada pimpinan dibawahnya untuk secara kreatif melakukan perencanaan dengan target yang sudah disepakati.”
2.      Dari segi frekuensi penggunaan :
a)     Rencana sekali pakai (single-use plans)
Rencana yang biasanya dilakukan untuk organisasi yang sifat kegiatannya temporal. Contoh : “kepanitiaan”
b)     Rencana penggunaan terus menerus (standing plans)
Rencana yang biasanya digunakan oleh sebuah organisasi yang kegiatannya terus berkelanjutan dari waktu ke waktu. Contoh : “kebijakan”, “prosedur”, dan “aturan kerja” yang digunakan secara berkelanjutan oleh seluruh anggota organisasi.

Sumber : Sule, Ernie Tisnawati & Saefullah, Kurniawan. 2008. Pengantar Manajemen. Edisi Pertama. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.